Situs QQ Online Terpercaya Daftar Dan Rasakan Mudahnya Menang. Buktikan Sekarang

Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku

Cerita Hot kali ini bercerita tentang seorang gadis yang sedang menjadi SPG event pameran dan tidak sengaja bertemu dengan seorang direktur perusahaan. Dari awal perkenalannya itu, ia memberanikan diri untuk meminta kartu nama direktur tersebut dan menelepon dirinya beberapa hari kemudian. Karena ia ingin mencoba untuk melamar pekerjaan sebagai seorang sekretaris. Bagaimana ya kira-kira kisah lengkapnya, selamat membaca “Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku” ini yaaaa.. Jangan lupa siapin tissue biar ga berantakan.. 🙂

Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku

Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku

Cerita Hot – Ini merupakan pengalaman pribadi yang kualami tahun lalu saat kantor tempatku bekerja sedang mengikuti sebuah pameran Furniture di salah satu mall yang ada di ibukota. Sebagai seorang Direktur Bagian Operasional, aku bertanggung jawab atas keadaan yang ada di lokasi pameran. Kebetulan hari itu aku sedang tidak ada acara, sehingga kusempatkan diri untuk mampir melihat-lihat lokasi kami pameran.

Aku sudah empat tahunan bekerja di bidang furniture, kebetulan ayahku memang memiliki workshop sendiri di rumah. Karena itu lah aku sangat menikmati pekerjaanku ini, walaupun dalam kondisi hari libur. Aku menyempatkan diri untuk mampir memantau kondisi di lapangan. Agar mengetahui produk yang dijual dan ditawarkan oleh para pesaing kami, aku pun berinisiatif untuk berputar-putar di area pameran sebelum akhirnya menuju stand perusahaan kami.

Aku perhatikan bentuk design serta bahan-bahan yang dipergunakan, sehingga dapat kuketahui dimana kelebihan dan kekurangan produk itu. Sekaligus mempelajari produk mereka agar dapat diterapkan di produk kami kedepannya. Ketika sedang fokus memperhatikan kitchen set yang dipajang, tanpa sadar aku dihampiri oleh seorang SPG dan menyapa diriku dengan ramah. “Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?”
Aku segera menoleh ke arah suara yang menyapaku itu, tampak sesosok wajah cantik dengan bentuk tubuh menawan berdiri di sebelah kananku.
Ketika bertatapan, ia pun melemparkan senyuman yang manis ke arahku.
”Pak, ini Kitchen Set design terbaru dari kami. Ada juga diskon dan bonus menarik lho yang kami tawarkan,” ujarnya nampak bersemangat dan tanpa sadar semakin mendekati diriku. Wangi parfum yang ia gunakan semakin tercium olehku.

“Begitu ya, saya lihat-lihat dulu ya,” jawabku sambil sedikit mencuri-curi pandang ke arahnya. Kulihat tinggi badannya tidak terlalu tinggi, jika disejajarkan hanya setinggi daguku saja, selain wajah cantik dan warna kulitnya yang berwarna kuning langsat, bentuk dadanya juga sungguh menarik perhatian mataku. Maklum saja, namanya juga laki-laki pasti tujuan awal mata ke arah sana.

“Boleh saya minta kartu namanya Pak” tanyanya ramah..
Kebetulan saat itu aku berpakaian cukup rapi, makanya dia berpikir aku ini seorang pebisnis dan meminta kartu namaku.
“Sebentar ya..” jawabku sambil mengeluarkan dompet dan mengambil kartu namaku.
Setelah kuberikan, dia menerima dengan senyuman manis. Ketika menyadari perusahaan tempatku bekerja, terlihat ia tersenyum geli.
”Ternyata satu bidang juga ya Pak, kedatangannya untuk keperluan pribadi atau pekerjaan nih..?” Kembali ia lontarkan pertanyaan dengan ramahnya.

“Tentu saja untuk keperluan perusahaan kalau furniture neng, kalau pribadi mah saya carinya kamu..” jawabku sambil bercanda
“Bapak bisa aja… genit nih..” katanya terlihat malu-malu.
Kemudian ia menyodori kartu namanya kepadaku. Kuterima sambil kulihat namanya yang tertera. Terulis nama Linda disitu.
”Linda ya namanya, ga kalah manis nih nama sama orangnya,” candaku kepadanya. Lagi-lagi Linda tersenyum malu.
“Bapak pinter juga ya kalau merayu,” katanya.
“Baiklah Linda, nanti kalau saya perlu apa-apa saya hubungi ya,” kataku sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“Bener ya, jangan PHP lhooo,” ujarnya.
“Kalau Linda ada perlu, boleh juga kan telepon Bapak?” tambahnya lagi.
“Pastilah Lin, masa mau ditelepon gadis cantik aku larang,” candaku.
“Terima kasih, Pak…Heri ” katanya sedikit terbatah-batah karena sambil membaca namaku yang tertera di kartu nama.

Seperti biasa pada hari senin pagi aku sudah tiba di kantor sekitar pukul setengah delapan. Kebetulan aku setiap hari berangkat bersama dengan anakku yang sekolahnya kebetulan searah dengan kantorku. Jam kerja kantorku dimulai pukul delapan, ketika aku sampai dikantor yang sudah terlihat sibuk hanya office boy saja yang sedang membersihkan salah satu ruang kerja yang ada di dalam kantor.

Biasanya kegiatanku begitu sampai kantor adalah menyeduh kopi untuk kunikmati sambil membaca koran. Ketika sedang asyik menyeruput kopi tiba-tiba ponselku berbunyi.
“Halo, selamat pagi.”
“Haloo, selamat pagi. Apa benar ini dengan Pak Heri?” suara lembut nan merdu terdengar dari seberang sana.
“Betul Bu, dengan siapa saya berbicara?” tanyaku sambil berpikir siapa orang yang pagi-pagi begini sudah menelepon.
“Tuuh kan, jahat ya. Nomor Linda dilupain gitu aja.” serunya dengan manja.
“Oohh Linda, bukannya dilupain Lin, tapi saya belum sempat masukin nomor kamu ke contact number di hp.” ujarku membela diri.
“Ngomong-ngomong, hari ini bapak sibuk gak? Kalau ada waktu, Linda rencananya mau mampir pak pas makan siang. Ada yang mau Linda obrolin sama Pak Heri.” pintanya dengan suara khas.
“Boleh, nanti kita makan siang bareng aja ya.” kataku.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih Pak atas waktunya, maaf sebelumnya jika sedikit merepotkan,” balasnya.
“Datengnya on time ya, jangan ngaret.” jawabku sedikit menegaskan.

Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku

Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku

Saat jam menunjukkan pukul 11.50, salah seorang staff ku datang mengetuk pintu ruangan kerjaku.
“Silahkan masuk,” kataku.
“Selamat siang Pak, di depan ada tamu seorang perempuan yang ingin menemui anda, tadi dia sebut namanya Linda,” kata stafku.
“Persilahkan dia masuk,” ujarku..

Stafku pun menutup pintu dan pergi memanggil Linda.
Tak lama berselang kembali terdengar suara ketukan pintu, kali ini tanpa kupersilahkan masuk. Pintunya dibuka dan terlihat sosok cantik Linda yang saat itu sedang mengenakan pakaian sedikit formal dengan blouser putih dan celana panjang hitam.
“Selamat siang Pak Heri.” sapa Linda.
“Masuk Lin, silahkan duduk.” kataku seraya bangkit dari meja kerjaku menuju sofa yang memang disediakan untuk para tamu yang datang ke ruanganku.

Blouser putihnya yang ketat menampilkan bentuk tonjolan dadanya dengan sempurna. Meski tampil formal namun ia tetap terlihat seksi.
“Wah, kantor Pak Heri nyaman ya.” ujarnya sambil melemparkan pandangannya kesekeliling ruangan.
“Kamu bisa saja.” ujarku.
”Yuk, kita makan siang bareng. Daerah sekitar sini saja ya.”
“Boleh Pak.”

Setelah itu kami pun turun menuju parkiran mobil. Kebetulan aku sudah ada rencana makan siang di salah satu restoran favoritku yang terletak di hotel bintang tiga yang berjarak sekitar 20 menit dari kantor.
“Steak Wagyu disini enak lho, Linda.” kataku sambil memberikan rekomendasi salah satu menu favorit di restoran yang akan kami tuju.
“oooh, gitu ya Pak,” jawabnya dengan suara yang lembut.

Agar tidak lama mencari parkir, aku memutuskan untuk mengambil valley dan berhenti di lobby. Begitu turun dari mobil, kuajak Linda untuk masuk ke salah satu restoran yang ada di sekitar lobby hotel itu.
Setelah masuk ke restoran dan duduk di meja yang untuk 2 pengunjung, kami mulai melihat-lihat menu dan memesan makanan kami masing-masing. Usai memesan makanan, aku pun membuka pembicaraan dengan bertanya mengenai keperluannya untuk bertemu denganku.

“Sambil nunggu pesanan kita datang, coba ceritain keperluan kamu.”
“Jadi begini Pak, sejujurnya saya malu juga merepotkan Bapak, tapi saat ini saya sedang benar-benar membutuhkan bantuan,” ujarnya dengan suara yang terdengar memelas.
Aku hanya diam saja sambil menyimak apa yang ia sampaikan.
“Sebenarnya saya ingin melamar pekerjaan Pak, sebagai sekretaris. Karena saya perhatikan tadi dikantor, tidak ada secretarisnya.”
“Hmm.. Boleh, sebetulnya saya memang sedang berencana untuk mencari seorang sekretaris, cuma belum sempat karena pekerjaan belakangan ini sedang menumpuk. Siapin aja CV kamu, Lin.”
“Ini pak,” jawabnya sambil membuka tas dan menyodorkan selembar amplop coklat. Ternyata Linda memang sudah menyiapkan semuanya.
“Baiklah, sekarang kita makan dulu aja ya. Masalah pekerjaan kita lanjutkan nanti, Semoga aku bisa membantu”
Jujur saja daritadi aku berusaha keras untuk menahan diri karena adik kecil yang ada di balik celana mulai bereaksi terhadap tonjolan di blouser Linda.

Setelah selesai makan, aku meninggalkan Linda di meja makan dan bilang kepadanya mau ke toilet sebentar, padahal aku menuju receptionist hotel dan memesan satu buah kamar. Semua itu kulakukan secepat mungkin agar tidak membuat Linda curiga.

“Linda, tidak lama lagi ada seorang Partner kerja dari luar kota yang akan datang, nanti kamu dampingi aku ya, anggap saja ini sebagai tes awal atas kemampuanmu.“
“Baik Pak,”
“Mari ikut aku ke atas, sambil menunggu orang itu datang aku mau wawancara sedikit” kataku.
Dia pun menyetujuinya dan mengikuti aku dari belakang.
Kebetulan kamar yang kupesan terdapat di lantai 5, setelah sampai di atas aku mulai mencari nomor kamarku.

“Ayo masuk Lin, kita wawancara di dalam saja sambil menunggu tamu kita datang,”
Suhu pendingin ruangan sengaja kunaikkan, agar dia nanti merasa gerah dan melepaskan blousernya. Otak kecilku mulai merencanakan hal ‘busuk’.
“Coba kamu mulai jelaskan dirimu, mulai dari riwayat pendidikan sampai pengalaman pekerjaan,” kataku sambil membuka amplop berisi CV dan lamaran pekerjaan Linda.

Linda pun mulai mendeskripsikan dirinya, tanpa ia sadari aku diam-diam memperhatikan payudaranya yang montok itu. Ternyata ketika bertemu dengannya di pameran waktu itu, ia hanya freelance saja sebagai SPG produk tersebut. Basic pendidikannya memang sebagai sekretaris, daripada menganggur saja, ia pun mencoba menjadi SPG event-event yang ada. Ia sudah mencari pekerjaan selama setengah tahun lebih, namun belum juga menemukan yang cocok.

Pendapatan yang tak menentu tidak sebanding dengan pengeluaran yang tetap setiap bulannya, selain untuk keperluan pribadi ternyata ia juga memiliki tanggungan SPP dua orang adiknya. Dengan alasan itulah ia sangat membutuhkan pekerjaan tetap dengan penghasilan yang pasti.

Setelah berbincang-bincang sekitar dua puluh menit, Linda sepertinya kepanasan. Hal itu terlihat dari keringat yang mulai terlihat mengalir di pipinya.
“Panas ya? Maaf ya Lin, aku sedang kurang enak badan makanya suhu AC nya kunaikkan.”
“Iya pak, tidak apa-apa” jawabnya sambil melepaskan blouser yang sedang ia kenakan.
Terpampang jelas pemandangan indah yang daritadi kuharapkan, dalam hati aku senang karena rencanaku berhasil.
Aku berusaha untuk tetap fokus ke matanya saat kami berbincang, walaupun sesekali tetap curi-curi pandang saat ia tidak menyadarinya.

Posisi dudukku mulai tidak nyaman, karena adik kecilku sudah tegang dan mengganjal di dalam celana seolah ingin menyembul keluar. Berusaha untuk tetap fokus, kualihkan perhatianku dengan mengambil Macbook Air yang sudah kubawa daritadi dan memberikan kepada Linda. Aku meminta dirinya untuk membuat surat penolakan atas penawaran salah seorang Partner kerja.

“Waduh, Macbook ya. Bagaimana cara pakainya nih pak? Aku kurang familiar.”
Mendengar itu aku pun berpindah duduk di sampingnya, saat duduk di sampingnya tercium jelas aroma parfum yang ia gunakan, meskipun sudah tercampur keringatnya tetap saja wangi dan menyenangkan mencium aroma itu.
“Aku pandu ya Lin, perhatikan baik-baik”

Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku

Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku

Linda duduk disebelah kiriku, sambil memperhatikan laptop yang kubuka dan memulai program mengetik yang ada di dalamnya. Saking dekatnya posisi duduk kami, sedikit saja gerakan sikuku ke arah belakang sudah mengenai payudaranya yang kenyal.

Waaaah.. Terasa sekali empuknya payudara Linda. Menyadari hal tersebut, ia memundurkan sedikit posisi duduknya, lalu aku pun kembali memintanya untuk mengetik surat itu. Kebetulan meja yang disediakan di dalam kamar kami agak rendah, sehingga Linda harus sedikit membungkuk ketika mengetik menggunakan laptopku.

Aku berusaha mengintip buah dadanya dari belakang badannya dengan berpura-pura memperhatikan ia mengetik dari belakang. Mendapati pemandangan indah itu membuat penisku semakin mengeras. Hingga akhirnya aku tidak mampu lagi menahan keinginan untuk menyentuh payudaranya, kuberanikan diri untuk menyentuhnya dari belakang, dari arah pinggangnya pelan-pelan menuju dadanya. Akhirnya berhasil kujamah dada montoknya itu dengan tangan kananku.

Hal tersebut membuat Linda kaget dan bereaksi untuk bangun dari posisi duduknya. Namun berhasil kutahan dengan kedua tanganku yang memegang pinggulnya dan mendudukannya kembali.

“Apakah kamu benar-benar menginginkan pekerjaan ini Linda?” tanyaku sambil tetap memegang pinggulnya.
Seoalah pasrah, setelah mendengar pertanyaan itu, ia tidak lagi melakukan perlawanan. Hal tersebut membuatku semakin leluasa, kali ini kuremas payudaranya dengan tangan kananku sementara tangan kiriku berusaha untuk membuka kancing kemeja yang ia kenakan. Setelah berhasil membuka semua kancingnya, kuselipkan tangan dari bawah branya menyentuh kedua payudaranya langsung. Linda pun memejamkan matanya sambil sesekali badannya bergerak karena rasa geli yang dia dapat saat tanganku bermain-main diatas putingnya.

“Aaah.. Pak Heri, jangan seperti ini Pak…”
Aku tidak lagi memperdulikan ucapannya, karena nafsu setan telah mengambil alih diriku. Perlahan kucoba merebahkan dirinya ke sofa tempat kami berkutat saat ini. Ia pun menurut saja, setelah posisinya tiduran di sofa, aku pun melucuti semua pakaian termasuk bra ungu yang saat itu ia kenakan maka nampaklah 2 buah bongkahan dada yang super kenyal itu.

Aku pun tak mau berlama-lama membiarkan ‘hidangan’ itu begitu saja. Kumulai saja dengan mengemuti payudara kanannya sambil tangan kiriku memeras-meras payudara kirinya. Mendapati seranganku itu Linda mulai mengeluarkan desahan-desahan kecil.

“AAAaaahhh…” Desahan mulai terdengar jelas olehku saat lidahku menjilati puting susunya. Ia berusaha menutupi desahannya dengan tangan, hal itu semakin membuatku tertantang untuk melancarkan rangsangan. Jilatan dan remasanku pun semakin lama semakin liar di sekitar payudaranya. “eeehhmmmm.. ehhhmmmm…” tersedar lagi suara desahannya yang tertutup tangan.

Aku terus melakukan rangsangan itu selama lima belas menit. Kali ini aku mulai membuka kait celana panjang hitamnya. Ia tidak lagi melakukan perlawanan dan hanya diam saja, mungkin dia sudah mulai menikmati permainan yang kulancarkan padanya pikirku. Setelah kait celananya berhasil kulepas, kuhentikan sejenak kegiatanku di sekitar payudaranya dan membuka celananya hingga hanya tersisa celana dalamnya saja yang berwarna kuning. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Setelah memandangi tubuh indahnya sejenak, aku kembali melanjutkan aktivitasku yang belum tuntas tadi. Kali ini kuciumi bibirnya, dari yang tadinya hanya diam saja menerima ciumanku. Hingga akhirnya ia membalas ciumanku dan kami pun sampai bergulat lidah. Tentu saja tanganku tidak diam saja, tangan kananku menggerayangi dada, perut dan pahanya, hingga akhirnya tanganku mulai menghampiri pinggiran celana dalamnya dan Linda pun cukup peka.

Ia melebarkan kedua kakinya, sehingga aku jadi leluasa untuk mengusap-usap vaginanya dari luar celana dalam yang ia kenakan. Mendapat rangsangan di daerah vagina membuatnya tidak dapat menahan diri lagi, desahan yang tadi berusaha ia tahan kini ia biarkan keluar begitu saja, sungguh-sungguh membuatku semakin bernafsu dalam mencumbu dirinya. Tak lama kuusap-usap vaginanya, celana dalam yang ia kenakan terasa basah, ternyata vaginanya sudah demikian basahnya hingga menembus ke celana dalam. Itu menandakan rangsanganku sudah mencapai batas maksimal.

Aku pun mencoba untuk melepaskan celana dalamnya, setelah berhasil kulepaskan kali ini aku berusaha mencari klitorisnya, ketika berhasil kutemukan dengan jariku. Linda pun mendesah lagi.
“Aarghhh..paaakk Heri.. aaaahhh…” Terdengar desahan kenikmatan yang keluar dari mulut Linda sambil wajahnya ia dongakkan keatas ketika jari-jariku mulai bermain di daerah klitorisnya.

Vagina yang sudah basah dengan dihiasi bulu-bulu halus sungguh membuatku bersemangat, perlahan aku mulai mengubah posisi seperti menduduki dirinya, aku membuka kemejaku dulu kemudian kembali melanjutkan menjilati payudaranya kiri dan kanan secara bergantian.
“aaahh.. Paak..”
“enaaak paak.. aaaahh”
rintihannya semakin menjadi, aku mulai turun menjelajahi daerah perutnya.
“eeemmmhh.. emmmmhhh,,,” Linda terus saja mendesah.
kukembalikan jilatanku di bagian payudara dan naik menuju lehernya.

“aaaaahhh… aaaahhh.. Paak, Masukin donk.. Linda uda ga tahaaan.. aaahhh..”
Mendengar permintaan itu, aku pun tidak menunggu lama. Sambil terus menjilati lehernya, aku membuka celana dan celana dalamku. Akhirnya tidak ada lagi pakaian yang menempel di tubuh kami, kami berdua kini sudah telanjang bulat dan sama-sama sudah sangat terangsang.

Aku kembali melakukan rangsangan terhadap klitorisnya sudah sangat basah, kali ini tidak hanya berhenti di klitorisnya. Aku mulai memasukkan jariku ke dalam vaginanya. Terasa vaginanya masih rapat sekali, kumasukkan jari tengahku dalam vaginanya, lalu kukeluarkan lagi. Kuulangi terus kegiatan keluar masuk jariku di vaginanya, Linda pun semakin menggelinjang.
“aaahhh.. aaaaaaaahhhh.. eeeemmmhhhh.. Paaak..”
“Mauuuu keluuaaar nih.. aaaahhh”
Menderah racauan Linda, aku pun semakin mempercepat gerakan jariku. Hingga terasa vaginanya mengedut menandakan dirinya telah mencapai klimaks, cairan vaginanya pun membasahi jariku.

“uda keluar yaaaa..” bisikku ditelinga Linda.
Ia hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“aaahhhh…..” Linda mendesah lagi.
“sekarang aku masukin ya pakai yang ini,” ujarku sambil mengarahkan penisku ke vaginanya.

Sebelum memasukkan ke dalam vaginanya, terlebih dahulu aku menggesek-gesekkan kepala penisku ke vagina hingga klitorisnya naik turun.
“aaaahh.. Aaaahhh.. masukin aja paaaak..aaahhhh..” Linda kembali meracau.
Aku pun mendorong masuk penisku ke dalam vaginanya, benar-benar sulit awalnya. Dengan sabar dan perlahan-lahan aku memasukkan penisku, vaginanya masih sangat sempit.

Setelah beberapa menit aku berusaha memasukkan penisku, akhirnya berhasil masuk secara keseluruhan.
“aaaaaaaaahhhhhhh..aaahhh…” terdengar desahan Linda yang kini berubah menjadi jeritan kecil berbarengan dengan masuknya penisku. tak lama berselang nampak cairan berwarna merah keluar bercampur cairan vaginanya yang membasahi penisku.
Di situlah kusadari bahwa ternyata Linda masih perawan, betapa beruntungnya diriku. Tengah hari bolong begini bisa menikmati seorang perawan.

Pinggangku mulai melakukan gerakan maju mundur secara santai.
“aaaahhh..aaahhhh..” Linda terus saja mendesah.
Vaginanya benar-benar erat mencengkram penisku. Awalnya cukup sulit bagiku untuk memasukkan kembali penisku setelah kumundurkan. Sungguh nikmat bercinta dengan Linda hari ini.

Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku

Cerita Hot Bersama Calon Sekretarisku

Linda nampak menahan sakit namun disaat yang bersamaan dirinya juga menikmati kenikmatan luar biasa. Sambil memaju mundurkan penisku, aku merebahkan diriku keatasnya sambil memeluk dan menciumi bibirnya, ia pun membalas ciumanku dengan ganas dan brutal. Linda benar-benar sudah lepas kendali dan tidak lagi malu-malu.

“emmmmhhh..emmmmhhh..Paaaak..” Linda kembali mengerang saat aku mendorong masuk lebih dalam lagi penisku. Aku sempat berhenti sejenak membiarkan penisku terbenam di dalam vagina selama beberapa saat sambil terus menciumi dirinya. Wajahnya nampak menahan perih akibat kedalaman penisku di dalam vaginanya. Keringat pun mulai bercucuran di tubuh kami berdua. Namun hal itu tidak lagi menjadi persoalan.

Aku kembali menggerakan maju mundur pinggangku, vaginanya masih terasa sangat peret bagi penisku. Semakin lama semakin kupercapat gerakanku. Linda semakin menikmati permainanku.
“Aaaaahhh…aaaahhh….aaaahhh…”
Mendengar desahannya yang semakin keras membuatku semakin bersemangat untuk menggoyang pinggangku memaju mundurkan penisku di dalam vagina Linda. Terasa air maniku seperti sudah ingin keluar, mendapati hal itu aku menghentikan sementara kegiatan maju mundurku.

Aku mencabut penisku dari vagina Linda, dan kembali menggesek-gesekkan kepala penisku di bibir dan klitorisnya. Nampak Linda sedang keenakan dan mendesah sambil sesekali menggigit bibir, tangannya pun menggenggam erat pinggiran sofa.

Terus kugesek-gesekkan penisku di klitorisnya hingga akhirnya Linda membusungkan dada sambil mengerang, “aaaaaaaaahhhhhhhhhhh……” diiringi dengan tubuhnya yang menggelinjang. Ternyata Linda mencapai klimaks lagi, melihat reaksi Linda yang seperti itu, aku memberinya waktu beberasa saat untuknya menenangkan diri.

Sambil menunggu kesempatan lagi, aku memeras-meras payudaranya dan kali ini ia tidak dia saja, ia memegang tanganku yang saat itu berada di atas payudaranya seperti memberi arahan kepada tanganku. Linda sudah benar-benar dikuasai oleh nafsu birahinya. Cerita Hot Dengan Calon Sekretarisku kali ini memang benar-benar lain daripada yang lain, karena Linda yang tadinya biasa-biasa saja mulai liar ketika sudah mencapai puncak.

Setelah ia sudah selesai menikmati puncak orgasmenya, aku mengajaknya untuk berdiri dan memintanya memundukan pantatnya, sehingga ia dalam posisi menungging. Yaaa, aku ingin melakukan gaya doggy style, nampak jelas terpampang pantat mulusnya didepan mataku. Perlahan-lahan aku mengarahkan penisku ke vaginanya lagi, seolah tak mau berlama-lama menunggu, tangan Linda menggenggam penisku dan menuntun ke vaginanya.

Aku mulai memasukkan kembali penisku secara perlahan. Benar-benar peret sekali vaginanya meskipun sudah lumayan basah oleh cairan wanitanya. Terdengar erangan Linda saat kumasukkan penisku, “eeemmmmmm.. emmmmhh” Entah kenapa mendengar erangannya membuat diriku benar-benar nafsu dan gemas. Tanpa menunggu lama aku pun menarik mundur pinggangnya hingga penisnya terbenam sempurna ke dalam.

“aaarrrgghh.. aaaaaahhhh… Paaaak…”
“goyangin pak, yang cepeet… aaaahhh”
aku mulai melakukan gerakan maju mundur secepat mungkin, sambil tanganku berusaha meraih payudaranya yang bergelantung dari belakang.
“aahhh.. aaarhhhh” Linda mendesah.
Semakin lama semakin keras, aku terus menggoyangkan maju mundur sambil memeluk dirinya dari belakang dan menciumi punggungnya.

“aaaahhh. Lin, aku uda mau keluar niiih..”
“aaaahhhhhhh.. ahhhhh… Jangan di dalam ya pak.”
“Linda.. aaahhh..”
Aku pun mencapai orgasme dan tak lupa kucabut penisku sebelum air mani menyembur keluar dari penisku.
“aaahhh.. aku keluar niih” kataku sambil mengarahkan semburan air mani ku ke pantat Linda.

Usai mengeluarkan semua air maniku, aku menegakkan tubuh Linda yang masih membungkuk daritadi. Kuciumi bagian belakang tubuhnya sambil menggerayangi payudaranya. Terasa payudara dan putingnya lebih keras dari sebelumnya. Mungkin karena ia sudah benar-benar terangsang sehingga seperti itu, entahlah. Aku tidak terlalu memusingkan hal itu. Yang terpenting saat ini bagiku adalah aku berhasil bercinta dengannya dan mencapai klimaks.

Setelah puas menikmati tubuhnya, aku mendudukkan dia di sofa. Dan aku pun duduk disebelahnya. Linda lemas dan menyenderkan kepalanya ke pundakku. Sambil membelai pipinya kubisikkan kalimat, “Terima kasih Linda, aku benar terpuaskan oleh dirimu.”

Tamat

Baca Juga :  Cerita Hot Terbaru Lelaki Lain Pemuas Nafsu Seksku

Leave a Reply